Tampilkan postingan dengan label Leadership. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Leadership. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Mei 2013

Ciri pemimpin yang baik.

Kepemimpinan adalah sesuatu yang dapat dipelajari sehingga dapat dilaksanakan spontan dan otomatis sepanjang waktu. Para pemimpin, misalnya, dapat segera membuat beberapa keputusan penting mengenai sebuah masalah, sementara orang lain masih dalam tahap menganalisis masalah.

Banyak orang bertanya-tanya bagaimana caranya para pemimpin bisa mengetahui caranya membuat keputusan terbaik, dalam kondisi di bawah tekanan?

Proses pengambilan keputusan terkadang didasari oleh pengalaman panjang menghadapi beragam situasi yang berbeda-beda. Selain itu, proses ini juga dipengaruhi tipe kepribadian, serta kegagalan yang tidak terprediksi. Proses ini adalah kemampuan memahami dan mengenali dampak dan akibat dari sebuah situasi, baik yang terjadi pertama kali maupun berulang.

Para pemimpin yang sukses memang memiliki naluri mengambil keputusan. Karena mereka telah berulang kali melakukannya, mereka menjadi kebal terhadap tekanan dan amat intuitif dalam proses pengambilan keputusan yang paling penting dan strategis. Inilah mengapa para eksekutif senior sering bilang, mereka mengandalkan “firasat” dalam mengambil keputusan sulit dalam waktu cepat.

Bila Anda berminat mengembangkan karier, inilah 15 hal yang harus Anda lakukan secara otomatis, setiap hari:

1. Membuat orang lain nyaman untuk terus terang
Kita sering melihat pemimpin yang terasa “seram” karena titel dan kekuasaan mereka. Nah, pemimpin yang sukses mampu mengalihkan perhatian terhadap diri mereka, dan mendorong orang lain untuk menyuarakan pendapat. Mereka jagoan dalam membuat orang lain nyaman untuk terus terang dan berbagi pandangan. Para pemimpin sukses justru mampu menciptakan suasana yang ramah dan akrab.

2. Mengambil keputusan
Pemimpin sukses adalah pengambil keputusan yang ahli. Mereka bisa melakukannya dengan memfasilitasi dialog, agar para kolega dapat meraih kesimpulan strategis, atau mereka bisa melakukannya sendiri. Mereka fokus “membuat sesuatu terwujud” sepanjang waktu — sebuah pengambilan keputusan yang menyuburkan kemajuan perusahaan. Para pemimpin sukses tidak membuang-buang waktu di masalah yang mengganggu momentum. Mereka tahu caranya mengambil 30 keputusan dalam 30 menit.

3. Komunikasikan target
Pemimpin sukses juga ahli komunikasi, dan ini sungguh terasa ketika mereka sedang berbicara mengenai “target kerja”. Mereka mengingatkan kolega mereka tentang nilai-nilai perusahaan dan target — memastikan visi mereka benar-benar dapat dipahami dan diterjemahkan dalam langkah nyata.

Saya pernah punya bos yang sering mengomunikasikan harapan dia terhadap bawahannya. Dengan begitu, kami jadi bisa fokus dan tetap berjalan sesuai jalur. Prosedur sederhana yang dia lakukan — yakni menyampaikan harapan — terbukti meningkatkan kinerja kami dan membantu kami mengetahui siapa saja di antara kawan-kawan yang tidak dapat memenuhi standar.

4. Menantang orang untuk berpikir
Pemimpin sukses memahami kemampuan serta kelemahan kolega mereka. Mereka menantang kolega untuk berpikir, dan membantu mereka untuk lebih mengembangkan kemampuan. Jenis pemimpin seperti ini amat piawai dalam mendorong perkembangan pegawai, sehingga orang tidak mudah terlena serta terus tumbuh.

Jika Anda tidak berpikir, Anda berarti tidak belajar hal yang baru. Jika Anda tidak belajar, berarti Anda tidak berkembang — dan lama-lama Anda akan jadi tidak penting di pekerjaan.

5. Dapat diandalkan
Pemimpin sukses membiarkan dirinya diatur oleh kolega. Perhatikan: diatur, bukan dikendalikan. Pemimpin membuktikan diri dapat diandalkan sehingga para bawahan jadi yakin bahwa mereka akan dibantu ketika dalam kesulitan.

Dengan membimbing dan mendukung pegawai, sikap dapat diandalkan juga menunjukkan bahwa bos tidak cuma peduli dengan kariernya, tapi juga karier pegawai.

6. Memberi contoh
Memberi contoh terdengar gampang, tapi kenyataannya banyak pemimpin yang gagal di hal yang satu ini. Nah, pemimpin sukses memberi dan melaksanakan contoh yang mereka berikan. Mereka tahu bahwa mereka diamati oleh bawahan.

7. Mengukur dan menghargai kinerja
Pemimpin hebat selalu punya “denyut” terhadap kinerja bisnis dan orang-orang yang bekerja keras. Mereka tidak hanya memperhatikan angka-angka, tapi juga secara aktif menghargai kerja keras orang — apa pun hasil akhirnya. Pemimpin sukses tidak pernah sebelah mata memandang pegawai yang bekerja keras “karena memang sudah seharusnya”.

8. Senantiasa memberi masukan
Pemimpin sukses selalu memberi masukan kepada bawahan dan juga mau menerima masukan. Caranya? Dengan menciptakan suasana kerja yang penuh rasa percaya. Mereka sendiri sudah memahami betapa pentingnya masukan, sejak awal karier mereka dulu.

9. Bongkar-pasang tim dengan benar
Para pemimpin hebat tahu benar kemampuan dan keahlian bawahan. Sehingga, mereka sangat cermat dalam menentukan “formasi pemain”. Mereka mengetahui pegawai mana yang harus ditugaskan untuk mengatasi situasi tertentu.

10. Bertanya dan mencari nasihat
Pemimpin sukses melemparkan pertanyaan dan mencari nasihat setiap waktu. Dari luar, mereka sepertinya tahu segalanya. Tetapi dari dalam, mereka sebenarnya haus pengetahuan dan selalu mencari cara mempelajari hal baru karena mereka ingin meningkatkan kemampuan mereka dengan nasihat orang lain.

11. Mengatasi masalah, tanpa menunda
Pemimpin sukses segera mengatasi masalah langsung ke akarnya. Mereka tidak menunda-nunda masalah. Kalau ada masalah, mereka juga tidak kabur. Mereka tahu bahwa orang bisa maju bila melakukan hal yang orang lain tidak suka.

12. Energi dan perilaku positif
Pemimpin sukses menciptakan budaya kerja yang positif sehingga para bawahan termotivasi bekerja. Mereka disukai dan dihargai. Mereka tidak mau momentum terganggu oleh kegagalan.

13. Menjadi guru
Banyak pegawai mengeluh, bos mereka tidak mau lagi mengajari mereka. Tetapi pemimpin sukses tidak pernah berhenti mengajari bawahannya, sebab mereka sendiri juga haus pengetahuan. Pemimpin sukses akan meluangkan waktu untuk membimbing kolega mereka serta mendukung pegawai yang memang terbukti mampu untuk maju.

14. Memperkokoh hubungan
Pemimpin yang sukses tidak berfokus mempertahankan “kerajaannya” — justru sebaliknya, mereka mengembangkan wilayah dengan memperkokoh hubungan yang saling menguntungkan. Pemimpin sukses berbagi hasil kesuksesan untuk menciptakan momentum dengan mereka yang ada di sekeliling.

15. Menikmati tanggung jawab
Pemimpin sukses memang menyukai jadi pemimpin. Bukan karena kekuasaan yang didapat, tapi karena dampak bermanfaat yang bisa mereka ciptakan. Bila Anda sudah meraih posisi senior, ini berarti Anda harus melayani orang lain dan Anda baru bisa melakukannya bila benar-benar menyukai pekerjaan.

Pada akhirnya, pemimpin sukses akan mampu mempertahankan keberhasilan karena 15 hal yang dibahas di atas dapat membantu mereka meningkatkan nilai organisasi, dan di saat yang bersamaan mengurangi risiko.

Sumber : yahoo.com

Selasa, 13 November 2012

The Administrator not The Leader.


The Administrator adalah sang pengatur atau pemimpin, The Leader adalah sang pemimpin atau ketua. Administrator adalah istilah yang dipakai untuk menggambarkan seorang dengan tugas mengatur orang lain dan mempunyai keahlian sebagai seorang administrator yang mempunyai keahlian management dan taktik strategi untuk mempengaruhi orang.

Aministrator sebenarnya sama dengan Manager karena Administration dan management adalah ilmu yang mempelajari kerjasama 2 orang atau lebih untuk mencapai tujuan. Hanya saja administration biasanya dipakai untuk bidang-bidang yang berhubungan pemerintahan atau negara dan management biasa dipakai untuk bidang kerja di perusahaan atau swasta.

Administrator biasa digunakan untuk sebutan pejabat formal di pemerintahan atau di perusahaan sedangkan leader atau pemimpin biasa dipakai untuk pemimpin informal.

Pemimipin dilahirkan apa dibentuk ?


Banyak pendapat dan perdebatan panjang soal ini, tetapi semua pendapat itu terasa mengambang kurang menyentuh dasar. Hal yang saya temukan setelah melewati pengalaman yang panjang soal kepemimpinan ini faktanya sbb :

1. Kepemimpinan itu seni.

Teori ini dibahas di banyak literatur, artinya bahwa kepemimpinan ini sebenarnya tidak bisa diajarkan secara tepat dan ilmiah tetapi sangat tergantung kepada style masing-masing orang penerapannya. Seni adalah sesuatu yang tidak bisa diajarkan kepada seseorang. Seseorang yang menguasai ilmu kepemimpinan belum tentu dia bisa menjadi pemimpin yang baik.

2. Kepemimpinan itu bakat.

Bakat adalah kemampuan atau potensi yang dimiliki seseorang yang telah dimilikinya sejak lahir. Bakat ini tidak bisa dihapus, dan bersifat alami, bakat ini seperti pisau tajam dalam diri seseorang. Jika pisau ini diasah dengan baik maka akan sangat tajam dan akan bisa memotong dengan cepat. Jika pisau ini tidak terasah maka pisau ini akan karatan dan tumpul.
Jadi sebenarnya kepemimpinan ini sebuah bakat yang kalau dilatih dan diasah mereka akan menjadi pemimpin yang baik. Jika kita melatih seseorang yang tidak berbakat sama seperti kita mengasah pisau itu dari sisi tumpulnya, akan memakan waktu lama dan tidak efektif.

Jadi kesimpulannya pemimpin itu dilahirkan dan dibentuk. Jangan memilih pemimpin yang memang tidak punya bakat pasti merugikan dan itu akan kelihatan dari gaya kepemimpinannya. Jangan melatih pemimpin yang tidak berbakat itu akan sia-sia. Jurusan management dan kepemimpinan di Perguruan Tinggi mestinya hanya menerima calon mahasiswa ayang menurut psikotes berbakat menjadi pemimpin, bukan yang berminat

Pemimpin yang assertif !

Penjelasan berikut diambil dari Smart Emotion forum. oleh Anthoni dio Martin.

Perilaku Asertif adalah hubungan interpersonal untuk mengungkapkan emosi secara: terbuka, jujur, tegas dan langsung pada tujuan, yang dilakukan dengan penuh keyakinan diri dan sopan.
Apa yang terjadi jika pemimpin tidak Asertif?
- Tidak transparan
- Tidak dipercaya, tidak meyakinkan
- Masalah menjadi berlarut-larut
- Anak buah cenderung defensif mencari alasan, bukan mencari solusi

Mindset untuk pemimpin:

- Lebih baik masalah diselesaikan sekarang, daripada berlarut-larut
- Tugas pemimpin bukan untuk membuat semua orang bahagia, tapi untuk mencapai tujuan organisasi
- Fokus pada solusi, bukan melukai orang lain
- Tetap menghargai hak azasi anak buah, serendah apapun posisinya
Asertif juga ditentukan oleh: pengalaman, jenis kelamin, kebudayaan, usia, tingkat pendidikan, situasi dan kondisi.

Ada 3 jenis ASERTIF:
1. Asertif Penolakan. Contoh: "Maaf Pak, saya tidak meminjamkan uang kaerna prinsip saya tidak meminjam dan tidak meminjamkan uang".
2. Asertif Pujian. Contoh: "Saya kagum dengan semangat belajar Bapak, karena meskipun sudah hampir pensiun tetap masih semangat belajar".
3. Asertif Permintaan. Contoh: "Mohon antri"

Hal penting dalam sikap Asertif bagi pemimpin:
1. Jelaskan faktanya, bukan menilai. Contoh: "Penyusunan laporan kamu belum tertata baik". BUKAN: "Laporan ini menunjukkan cara berpikir Anda aneh, tidak jelas"
2. Tidak menggenalisasi. Contoh: "Hari ini kamu terlambat 15 menit, dan ini sudah ketiga kalinya". BUKAN: " Kamu selalu terlambat"
3. Menggunakan kata 'saya', bukan 'kamu'. Contoh: " Saya kurang nyaman saat kamu menceritakan data yang saya minta kamu untuk merahasiakannya di meeting kemarin". BUKAN: "Kamu memang tidak bisa dipercaya untuk jaga rahasia"
4. Menyatakan perasaan dan opini disertai alasan yang jelas. Contoh: "Saya kecewa karena perusahaan Anda tidak memegang janji". BUKAN: Perusahaan Anda penipu"

Manfaat Asertif: Tidak dikendalikan orang lain, efektif dan efisien dalam berinteraksi (tujuan tercapai), lebih dihargai, rasa puas (karena bisa mengungkapkan).

Egois dan Agresif kunci sukses.


VIVAnews - Sebtah penelitian menunjukkan kepribadian seseorang berkaitan erat dengan pengembangan kariernya di masa depan. Karyawan berkepribadian egois dan agresif mungkin tidak akan mendapat predikat sebagai karyawan paling disukai, tapi mereka cenderung memiliki karier cemerlang.

Sedangkan karyawan dengan kepribadian menarik dan ramah dinilai kurang menarik untuk memperoleh kenaikan jabatan. Karyawan tipe ini juga cenderung diabaikan untuk promosi jabatan. Peneliti menemukan, sifat agresif secara tersirat menunjukkan kekuatan, sementara altruistik dianggap sebagai kelemahan.

Riset dilakukan Kellogg School of Management, Stanford School of Business dan Carnegie Mellon University Tepper School of Business. Studi bertujuan mencari kepribadian yang berkaitan dengan kepemimpinan.

Dalam tiga rangkaian percobaan, peserta ditempatkan dalam kelompok. Para peneliti kemudian menganalisa perilaku yang mewakili mereka, bagaimana seseorang menjaga posisinya dan bagaimana mereka berkontribusi dalam kelompok.

Hasilnya, mereka yang berkepribadian ramah paling populer di kelompok. Namun, mereka juga dianggap paling lemah dan mudah ditipu. Sementara orang yang memiliki perilaku dominan dan agresif dipandang sebagai kepribadian 'alfa' atau seorang pemimpin.

Robert Livingston, dari Kellogg School, mengatakan, "Menjadi seorang yang egois membuat Anda tampak lebih dominan dan membuat Anda tampak lebih menarik sebagai seorang pemimpin, terutama ketika ada kompetisi," katanya kepada Today. Dia menambahkan, "Di bawah sadar orang menyimpulkan kebaikan adalah sebuah kelemahan. "

Livingston percaya, adanya kecenderungan agresivitas dengan kepemimpinan dapat menjelaskan alasan mengapa seseorang melakukan korupsi. "Orang yang cenderung bermoral, baik, dan prososial paling tidak mungkin dipilih untuk peran-peran kepemimpinan," katanya.

"Itu meningkatkan kemungkinan bahwa korupsi dan penyimpangan terjadi karena kita memiliki pemimpin yang salah."

Tapi, Rob Kaplan, mantan Direktur di Goldman Sachs dan profesor di Harvard Business School, tidak setuju dengan konsep tersebut. "Saya tidak percaya bahwa orang bermental buruk menghabiskan waktu untuk menjadi seorang pemimpin. Saya percaya yang terjadi adalah sebaliknya."

Dia menjelaskan, nilai-nilai ideal paling banyak pada calon pemimpin.  "Saya tidak menyarankan agar Anda menjadi orang baik untuk menjadi seorang pemimpin. Tapi, saya pikir Anda harus memiliki integritas, nilai, dapat bekerja dengan orang lain, dan menumbuhkan potensi orang," katany
a.

Ciri atasan Passive Agresif.


Atasan yang pasif kelihatan mementingkan kepentingan orang lain tetapi sebenarntya dia menentang dalam hatinya dengan segala yang dia perbuat, maka sikap ini dikenal dengan pasif agresif.
Ciri-ciri atasan dengan sikap ini adalah :

*Dia berlaku seolah-olah bertanggungjawab atas tim padahal ia melakukan sabotase atas kemajuan bawahannya.

* Melakukan kontrol ketat atas semua proyek, tapi hobi mengubah pikiran atas proses maupun petunjuk yang diberikannya.
* Enggan memberi informasi maupun arahan yang penting agar bawahan menjadi karyawan berprestasi.
* Menjadwalkan rapat, tapi ia datang terlambat atau malah tidak muncul.
* Mengkritik bawahan di muka umum, sehingga bawahan ini merasa tidak berguna.
* Memanfaatkan kepandaian bawahan hanya untuk kepentingan dirinya.
* Menahan penghargaan atau kenaikan gaji karyawannya.
* Menciptakan semacam intrik antara karyawan baru dan lama.

Sikap ini kontraproduktif dan tidak mempunyai kecerdasan emotional yang baik, apalagi kecerdasan spiritual. Jika mereka menyadari bahwa memimpin adalah melayani maka mereka akan tampil sebagai sosok pribadi yang akan dihargai oleh bawahannya.