Selasa, 12 Maret 2013

Mapel TIK dihapus ?

Rencana Kurikulum 2013 yang sempat menimbulkan polemik, pro dan kontra, mulai memasuki uji publik. Semua lapisan masyarakat bisa memberikan masukan dan pendapat untuk menyempurnakan kurikulum yang bakal menggantikan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang berlaku saat ini.

 Kurikulum tahun depan akan mengarahkan para siswa pada observasi dan pembuatan laporan dalam setiap mata pelajaran. Dalam buku akan diberikan tuntunan untuk proses pembelajaran seperti itu.
Juga pola pengadaan buku pelajaran untuk siswa, katanya, berbeda dengan masa-masa sebelumnya. Kali ini pemerintah menyiapkan buku teks pelajaran untuk siswa dan buku pegangan guru untuk setiap mata pelajaran yang didistribusikan ke sekolah-sekolah. Buku-buku pelajaran akan diberikan secara gratis kepada guru dan siswa.

Kurikulum baru pendidikan nasional yang sedang dipersiapkan pemerintah bersama tim penyusun, nantinya akan memangkas jumlah mata pelajaran menjadi lebih sedikit, sehingga meringankan peserta didik. Demikian dikatakan Wamendikbud bidang Pendidikan, Musliar Kasim.
“Jumlah mata pelajaran yang banyak membebani siswa, dan menyebabkan siswa menjadi bosan,” katanya dalam pertemuan pers bersama Wamendikbud bidang kebudayaan Wiendu Nuryanti, terkait Gerakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa, di Jakarta, Kamis (27/9/2012) .
Ia mengatakan kurikulum mendatang yang sedang disusun oleh tim yang terdiri para pakar dan tokoh pendidikan seperti Franz Magnis Suseno, Prof Juwono Sudarsono, serta lainnya, akan ditekankan pada model pembelajaran tematik, dan lebih mengarah pada pendidikan karakter.

“Saya belum dapat menceritakan mana pelajaran yang hilang dan ditambah pada kurikulum tahun ajaran 2013/2014 nanti, tapi intinya tidak akan ada guru yang mengganggur,” kata M Nuh usai meluncurkan program Gerakan Indonesia Berkibar di Jakarta, Minggu (28/10/2012).

Rencana Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Indonesia untuk memberlakukan kurikulum 2013, mempunyai dampak tersendiri bagi sistem pelajaran di sejumlah jenjang sekolah. Salah satunya peringkasan jumlah mata pelajarandi sekolah. Di antaranya, menghapus mata pelajaran (mapel) Teknologi Informasi dan Komputer (TIK) di SMP/MTs dan SMA/MA/SMK.

Hal itu disampaikan Mendikbud RI Mohammad Nuh saat sosialisasi kurikulum 2013 di Pondok Pesantren Al Hikam, Burneh, (31/12). Sosialisasi tersebut dipaparkan M. Nuh kepada para kepala sekolah, pejabat di lingkungan Disdik Bangkalan, para rektor dan para kiai se Madura. Setelah ada penjelasan penghapusan sebagian mata pelajaran, termasuk TIK, Sekretaris Disdik Bangkalan M. Kamil langsung merespons. Di hadapan M. Nuh dan Dirjen Kebudayaan Kacung Marijan, Kamil menanyakan bagaimana nasib para guru TIK.

”Bagaimana nasib pengajar pelajaran TIK kalau dihapus. Dia akan mengajar apa, terus bagaimana dengan mereka yang sudah mendapat sertifikasi,” tanya Kamil. Mendapat pertanyaan tersebut,  mantan Rektor ITS itu menjelaskan, adanya kurikulum baru memang pasti tambah repot. Akan tetapi, kebijakan baru kurikulum 2013 pada prinsipnya tidak boleh merugikan guru. ”Jadi, guru TIK tidak akan dipecat dan haknya juga tetap. Masak guru TIK cuma bisa mengajar TIK saja, tidak mungkin, pasti ada pelajaran lain yang dikuasai.

Maka dari itu, masih bisa diberi tugas untuk mengajar pelajaran lain, seperti Kimia, Fisika misalnya,” jelasnya. Nuh menerangkan, pertimbangan penghapusan pelajaran TIK di jenjang SMP/SMA karena pelajaran TIK bukan lagi mata pelajaran. Melainkan ilmu yang harus sudah dikuasai siswa, tanpa harus dimasukkan dalam mata pelajaran. ”Semua mata pelajaran dilaksanakan menggunakan IT. Jadi tanpa dipelajari lewat pelajaran, siswa harus sudah menguasainya,” tambahnya.

Mantan Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo) ini juga mengungkapkan, selain TIK, pelajaran yang berpotensi dihapus adalah IPA dan IPS. Sedangkan bahasa daerah tetap ada karena bahasa daerah merupakan kearifan lokal yang dimiliki setiap daerah. Ditambahkan Nuh, meski sebagian pelajaran dihapus, tidak mengurangi jam pelajaran. Malah sebaliknya, jam belajar di sekolah akan bertambah menjadi empat jam per pekan. ”Dalam kurikulum baru, basis kompetensi dengan pemikiran kompetensi berbasis sikap, keterampilan, dan pengetahuan.

Beberapa guru TIK memberikan tambahan  argumentasi mengenai tidak berdasarnya alasan penghapusan mapel TIK. Menurutnya, TIK tidak boleh dimaknai sekadar guru bisa mengoperasikan powerpoint dalam slide projector atau murid bisa berselancar di internet. Bila pemaknaannya seperti ini, maka guru dan apalagi siswa di Indonesia hanya akan menjadi konsumen atau user teknologi. Justru, seharusnya generasi muda kita menjadi kreator yang ikut menciptakan banyak produk teknologi, terutama yang terkait dengan TIK,  baik dalam arti hardware maupun software.
“Kalau sampai TIK dihapuskan, tandanya Indonesia hanya ingin menjadikan siswa sebagai user, karena siswa hanya mengerti penggunaannya saja, tanpa memahami seluk beluk software, dan kemungkinan akan tertinggal perkembangan teknologi yang terus update…,” kata pembaca.

"Kami dari Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) sudah jelas menolak kurikulum 2013 karena banyak sekali potensi masalah yang akan terjadi," ujar Retno Listyarti, Sekretaris Jendral FSGI, Minggu (16/12)
Ia juga mengkritik rencana pemerintah untuk mengurangi jumlah mata pelajaran namun menambah jam belajar dari 32 jam per minggu menjadi 38 jam.

"Ini berarti anak harus makan siang di sekolah, sementara sebagian besar jajanan di sekolah itu berbahaya untuk dikonsumsi, selain itu anak juga jenuh berada lama di kelas yang tidak menarik," ujar Retno.
Retno juga mengatakan rencana penghapusan mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Ilmu Pengetahuan Sosial bagi siswa Sekolah Dasar adalah tidak tepat. Menurutnya jika pemerintah ngotot maka bisa saja pemerintah menggabung dua mata pelajaran tersebut untuk siswa SD di tahun-tahun pertama, namun untuk yang sudah kelas IV,V dan VI dua mata pelajaran tersebut harus berdiri sendiri.

"Saya juga tidak memahami rencana penghapusan penjurusan IPA dan IPS di tingkatan Sekolah Menengah Umum, yang berarti akan diganti Sistem Kredit Semester atau SKS," katanya.

Dengan sistem SKS, siswa bebas memilih mata pelajaran yang lebih diminati.

"Berarti nanti ada guru yang kebanjiran siswa sementara akan ada guru yang sepi murid, lantas bagaimana dengan Ujian Nasional? Bagaimana menentukan mata pelajaran yang diujikan, sepertinya pemerintah cuma memikirkan masalah ini setengah jadi," tutur Retno.

Rencana Kemendikbud untuk mengajarkan Ilmu Pengetahuan Alam ke dalam pelajaran Bahasa Indonesia juga dinilai Retno sebagai langkah yang absurd.
"Kalau memasukkan unsur Bahasa Indonesia sambil mengajar IPA itu masih  bisa dimengerti, karena Bahasa Indonesia mencakup membaca, menulis dan mendengar, jadi bisa dilakukan sambil mengajar IPA, kalau kebalikannya  mana bisa, bagaimana mengajar IPA di dalam pelajaran Bahasa Indonesia?" Tutur Retno.

Pengamat pendidikan Universitas Negeri Jakarta, Jimmy Paat, memberi komentar senada.

Jimmy mengatakan seharusnya pemerintah berorientasi pada kondisi pendidikan lokal Indonesia dan tidak terlalu fokus pada persaingan dengan negara lain.

"Alasan bahwa Indonesia ketinggalan dari negara tetangga seperti Singapura atau Malaysia itu tidak tepat, memang dari dulu kita sudah ketinggalan, tetapi solusi mengejar ketinggalan itu bukan dengan mengganti kurikulum," ungkap Jimmy.

Jimmy mengatakan berbeda dengan negara lain, kapasitas guru dan murid di Indonesia masih sangat tidak merata, terutama di daerah terpencil, terluar dan termiskin.

"Jangan cuma lihat statistik di negara lain, lihatlah kondisi guru dan anak di lapangan," tambahnya.

Jimmy menyayangkan keputusan pemerintah untuk mengganti kurikulum berdasarkan perbandingan dengan negara lain yang masalah pendidikannya  jauh berbeda.

"Seharusnya Kemendikbud mengadakan survei-survei atau studi, tetapi yang sifatnya lokal, sehingga kalau bicara berdasarkan fakta di lapangan,"  tambahnya.

"Intinya penggantian kurikulum lama dengan kurikulum 2013 itu adalah oversimplifikasi, alias reduksi masalah, yang sebenarnya jauh lebih kompleks daripada itu, jadi sama sekali bukan jawaban yang kita butuhkan," tegas Jimmy.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar