Sabtu, 02 Maret 2013

Melanjutkan kuliah ? pilih sesuai bakat bukan minat !

Bagi teman-teman yang mau melanjutkan kuliah di perguruan tinggi atau yang lain, pertimbangan berikut ini boleh direnungkan !
Pertama jika kita memutuskan untuk kuliah lagi adalah mencari tempat kuliah yang tepat adalah pemilihan jurusan yang tepat sesuai dengan bakat, kemampuan dan visi kesdepan disarankan jangan asal pilih. Memilih dengan dasar pertimbangan karena informasi teman dan peluang yang luas dibidang itu akan menjadi tidak tepat karena itu sekedar minat yang bisa berubah-ubah tidak sesuai dengan bakat yang kita miliki.

Mengapa harus memilih sesuai dengan bakat ? karena bakat akan bisa menjamin kemampuan kita yang tanpa batas, bisa belajar dengan semangat tinggi dan menyenangi bidang tersebut sehingga mudah berprestasi. Bakat berbeda dengan minat yang bisa berubah haluan setiap saat dan prestasi yang sulit, tetapi masih terlihat menyenangi pekerjaannya.

Pertimbangan lain jika kita tidak bertumpu kepada bakat akan sulit bersaing dan berprestasi di dalam persaingan yang serba ketat dan jumlah penduduk yang semakin banyak dan pengangguran yang semakin luas, kita akan punah dalam kehidupan ini.

Abaikan peluang jika bakat anda ternyata dibidang yang peluangnya tidak luas untuk bekerja, dengan menekuni bidang tersebut kita akan kreatif dan menciptakan hal-hal baru atau peluang kerja bahkan bisa menciptakan hal luar biasa yang bermanfaat bagi sesama. memilih karena gengsi akan membawa kehancuran dan penderitaan di belakang hari.

Orang-orang yang berbakat akan mudah berprestasi dan mudah belajar dan mereka akan menciptakan sejarahnya sendiri di dunia, tidak mudah stress, bimbang dan bisa menikmati kehidupan lebih tenang dan bahkan bisa kaya raya dengan hasil karyanya. tuhan memang telah menciptakan setiap orang dengan kemampuan atau bakat berbeda maka perlu disyukuri agar kehidupan ini berjalan.

Untuk mengetahui minat dan bakat seseorang tidak cukup hanya dengan dikira-kira. Diperlukan beberapa cara untuk mendeteksinya. Semakin banyak cara yang dipakai maka akan semakin lengkap referensinya sehingga diharapkan bisa semakin mendekati data yang sebenarnya.

Mengapa minat dan bakat seseorang perlu diketahui sejak dini? Sebenarnya pertanyaan ini sangat mudah dijawab karena jawabannya sudah ada di dalam diri kita masing-masing. Dengan mengetahui minat dan bakat seseorang sejak dini, tentunya kita akan punya gambaran yang lebih utuh tentang apa-apa yang harusnya menjadi prioritas untuk dipelajari dan dikembangkan, kursus apa yang seharusnya diikuti, jurusan apa yang seharusnya dipilih, kegiatan apa yang seharusnya diikuti, pekerjaan apa yang seharusnya ditekuni, dan sebagainya.

Contohnya, ketika kita tahu seorang anak mempunyai minat dan bakat di bidang visual spasial, maka yang harusnya menjadi prioritas untuk dipelajari dan dikembangkan adalah yang berkaitan dengan gambar bentuk dan bangun, kursus yang seharusnya diikuti misalnya komputer dan desain grafis, jurusan yang seharusnya dipilih antara lain teknik arsitektur atau teknik sipil atau desain komunikasi visual, kegiatan yang seharusnya diikuti adalah klub desainer, pekerjaan yang seharusnya ditekuni adalah menjadi seorang arsitek atau desainer produk, dan sebagainya.

test-psikologi-siswa-siswi-SMA

Pendek kata, kenapa bangsa Indonesia jauh tertinggal dari bangsa-bangsa lain? Padahal SDM dan SDA kita buanyak sekali?  Salah satu jawabannya adalah karena kita tidak fokus untuk menggali dan mengembangkan minat dan bakat anak-anak bangsa ini sejak dini. Anak-anak bangsa ini sudah terlalu lama dibebani dengan berbagai kurikulum yang seringkali tidak terlalu dibutuhkan. Sehingga anak-anak bangsa ini jadinya juga setengah-setengah, minat dan bakatnya tidak terasah, beban kurikulum yang diberikan dikuasai ala kadarnya.

Bagaimana di luar negeri? Jepang misalnya. Sejak kecil anak-anak di sana sudah biasa diajari untuk menemukan minat bakatnya, dibimbing untuk memaksimalkannya, diarahkan agar profesinya tidak menyimpang dari minat dan bakatnya. Sehingga kurikulum di sana juga dibuat seramping mungkin, Jepang fokus pada life skill bukan hanya knowledge.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar