Minggu, 28 April 2013

BOM BOSTON adalah separatis Chechnya




 Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan serangan bom Boston membuktikan bahwa separatis Chechnya adalah kelompok teroris. Dua pelaku bom Boston, Tamerlan dan Dzhokhar Tsaranev, memang warga keturunan Chechnya.
 
Selama ini Rusia meminta Amerika Serikat (AS) memasukkan separatis Chechnya ke dalam daftar kelompok teroris. Namun AS menolaknya karena menganggap militan Chechnya sebagai kelompok pemberontak biasa.
 
“Saya merasa terhina ketika Negara Barat menyebut kelompok teroris di Chechnya sebagai kelompok pemberontak,” ujar Putin, seperti dikutip Associated Press, Jumat (26/4/2013).
 
“Serangan bom Boston membuktikan kamilah yang benar,” lanjut Putin.
 
Putin adalah pemimpin asing pertama yang memberikan ucapan belasungkawa kepada Presiden Barack Obama setelah serangan bom Boston terjadi. Putin berjanji kepada Obama untuk membantu penyelidikan serangan bom itu.
 
 “Tragedi Boston harus dapat mempererat hubungan kedua negara. Khususnya dalam penanganan aksi terorisme yang selalu mengancam kita,” pungkas Putin.
 
Belum dapat diketahui apakah sikap AS terhadap separatis Chechnya akan berubah dengan adanya serangan bom Boston. Pemimpin separatis muslim Rusia Doku Umarov menyangkal terlibat dalam serangan itu. Dia menyatakan musuh mereka adalah Rusia bukan AS. 


 

Tsaranev bersaudara ternyata berhasil ditangkap polisi gara-gara telepon selular. Petugas menemukan keberadaan mereka setelah melacak sinyal ponsel milik pria yang mobilnya dibajak kedua pelaku bom Boston itu.
 
Tamerlan dan Dzhokhar Tsarnaev membajak sebuah mobil untuk membawa mereka ke Kota New York. Kedua pemuda itu memang berencana melanjutkan teror bomnya di New York.
 
Pria yang bernama Danny itu bercerita, Tamerlan menodongkan pistol ke arahnya dan menyuruh dia membawa mobilnya ke New York. Danny kemudian berhasil melarikan diri saat mobil yang dikendarainya kehabisan bensin.
 
“Saya berpikir saya harus melarikan diri secepatnya. Jika saya gagal, dia akan membunuh saya saat itu juga,” ujar Danny, seperti dikutip Telegraph Jumat (27/4/2013).
 
Danny akhirnya berhasil menghindar dari kejaran Tamerlan dan langsung menghubungi polisi. Daat itu dia mengatakan polisi dapat melacak keberadakan Tsarnaev bersaudara melalui sinyal ponselnya yang tertinggal di dalam mobil.
 
Polisi langsung melacak sinyal ponsel itu dan memulai aksi pengejaran. Dalam pengejaran tersebut Tamerlan tewas, sedangkan Dzhokhar berhasil ditangkap setelah menerima luka tembakan yang parah.


 

Pejabat pemerintahan Amerika Serikat (AS) mengungkapkan ibu dari dua orang yang diduga melakukan bom maraton Boston pernah masuk dalam database terorisme 18 bulan lalu, menurut pejabat pemerintah AS.

Zubeidat Tsarnaeva dan anak sulungnya, Tamerlan Tsarnaev dicatatkan setelah CIA dihubungi oleh Rusia pada 2011. Dilansir dari Metro, Sabtu (27/4/2013), pasangan ibu anak itu disebutkan adalah militan agama dan melakukan perjalanan ke Negara Adidaya tersebut.

Menurut para pejabat, pasangan tersebut masuk dalam daftar Terrorist Identities Datamart Database Environment (TIDE) tersebut termasuk teroris yang dikenal dan dicurigai, namun tidak selalu diduga melakukan kegiatan teroris.

Zubeidat yang kemudian kembali ke Rusia telah berulang kali mengatakan dia tidak percaya anaknya melakukan serangan yang menewaskan tiga orang dan melukai lebih dari 200 orang.

Dalam sebuah konferensi pers yang sangat emosional, dia berujar, "Amerika mengambil anak-anak saya jauh dari saya. Saya lebih suka untuk tidak tinggal di Amerika. Mengapa saya pergi ke sana? Saya yakin anak-anak saya tidak terlibat apa-apa," katanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar