Sabtu, 08 September 2012

Keutamaan Berdzikir kepada Allah.

Janganlah engkau lupa dari berdzikir kepada Allah karena para ulama telah berkata, “Barang siapa lupa pada Allah maka ia telah meninggalkan bersyukur pada-Nya”, dan mereka berkata pula. “Barang siapa menganggap mudah akan lalai kepada Allah dan lalai baginya, tidaklah lebih berat dibanding tusukan (hunusan) pedang, maka ia adalah pendusta yang tidak akan datang darinya sesuatu di jalan Allah”.
 
Dimana seorang ‘Arif meninggalkan dzikir satu nafas atau dua nafas, maka Allah datangkan syetan padanya sebagai teman baginya, sedangkan orang awam diberikan kemurahan dalam hal itu, dan dari mereka tidak diambil suatu tindakan apapun, kecuali bila mereka lalai dengan waktu yang berlebihan dengan melihat posisinya. Telah diriwayatkan oleh Imam Bukhori Muslim bahwasannya Allah berfirman dalam hadits Qudsi-Nya. “Aku ada pada prasangka hamba-Ku pada-Ku dan Aku bersamanya bila ia menyebut-Ku, jika ia menyebut-Ku didalam hatinya maka Aku menyebutnya dalam dzat-Ku dan jika ia menyebut-Ku dalam suatu kumpulan maka Aku menyebutnya dalam kumpulan yang lebih baik dari kumpulannya. Ibnu Hiban meriwayatkan “perbanyaklah kalian mengingat Allah, hingga orang-orang berkata ia gila.” Imam Muslim, nasa’i dan bazzar meriwayatkan suatu hadits “Bagaimana bila aku ceritakan pada kalian tentang lebih baiknya amal kalian, lebih bersihnya amal disisi tuhan kalian, lebih tinggi drajatnya amal kalian, lebih baik bagi kalian dari menginfakkan emas dan perak, dan lebih baik bagi kalian dari kalian bertemu musuh kemudian kalian menebas leher mereka dan mereka menebas leher kalian? Para sahabat berkata. “Baik” maka Rasul bersabda. “INGAT ALLAH” (Dzikrullah).
 
Imam Thabroni meriwayatkan, “Ahli surga tidaklah merasa susah kecuali atas satu saat yang mereka lewati dengan tanpa berdzikir pada Allah”. Beliau meriwayatkan juga “Perumpamaan orang yang berdzikir pada tuhannya dan orang yang tidak berdzikir bagaikan orang yang hidup dan orang mati”. Imam tirmidzi meriwayatkan “Ketika kalian berjalan melewati pertamanan surga, maka singgahlah!!, ketika para sahabat bertanya ya Rasulullah apa pertamanan surga itu? Maka rasul menjawabnya “kumpulan dzikir”, beliau juga meriwayatkan. “Tidaklah dari sekelompok kaum yang duduk disuatu tempat lalu mereka berpisah darinya, dengan tanpa menyebut Allah, kecuali seperti halnya mereka berpisah menjauh dari bangkai dan kerugian bagi mereka dihari kiamat. Imam ahmad meriwayatkan. “Keuntungan majlis-majlis dzikir adalah surga”, Syeh Izzudin bin ‘Abdu Salam Rohimahullah berpendapat “Hadis-hadis tersebut diatas ditempatkan pada posisi perintah, karena segala pekerjaan yang dipuji syar’i atau orang yang melakukannya mendapatkan pujian atau pekerjaan tersebut dijanjikan suatu kebaikan, baik didunia ataupun diakhirat, maka hal itu adalah suatu yang diperintahkan, akan tetapi adakalanya masuk pada perintah wajib adapula yang masuk pada kategori sunnah. Begitu banyak hadits-hadits yang menjelaskan keutamaan berdzikir. Galilah selagi ada kesempatan!!
 
Jangan kau tinggalkan berdziikir walau dalam kondisi lalai. Imam Sahal Rohimahullah berkata “ berjalanlah kalian semua menuju ma’rifat billah walau dalam kondisi pincang, luka (sakit) sekalipun, janganlah menunggu sampai datangnya sembuh, karena menanti kesembuhan adalah kesia-siaan belaka. Ibnu ‘Athoillah berkata “Jangan kau tinggalkan berdzikir dikarnakan ketidak hadiranmu bersama Allah dalam dzikir itu, karena sesungguhnya lalaimu yang jauh dari mengingat Allah lebih buruk dibanding dengan kelalaianmu yang disertai dengan keadaan dzikir. Semoga Allah mengangkatmu dari dzikir yang disertai lalai menuju dzikir yang disertai ingatan dan dari dzikir yang disertai ingatan menuju dzikir yang disertai hadir di sisinya, dan dari dzikir yang disertai hadir menuju dzikir yang disertai sirna dari sesuatu selain yang ia sebut. Hal itu tidaklah sulit bagi Allah, ketahuilah hal itu olehmu wahai saudaraku.
 
Jangan kau tinggalkan dzikir, karena dzikir adalah pokoknya berjalan menuju Allah, dan lebih utama dibandingkan dengan sholat sunnah. Al ustadz Abu ‘Ali Ad-daqoq berkata: “Dzikir adalah pondasi yang kukuh dalam menjuju jalan Allah, bahkan dzikir adalah dasar segalanya, seseorang tidak akan sampai kepada Allah kecuali dengan mendawamkan dzikir.” Imam Abul Mawahid As-Syadili berkata: “sesungguhnya dzikir kepada Allah lebih tinggi dibandingkan dengan sholat sunnah dikarenakan walau sholat itu sendiri agung akan tetapi terkadang tidak diperbolehkan melakukannya pada sebagian waktu, berbeda halnya dengan dzikir, sesungguhnya dzikir bisa dilakukan dimanapun, kapanpun, dalam kondisi apapun.” Beliau juga berkata para ulama berselisih paham tentang keutamaan dzikir antara sirri dengan jahri. Beliau berpendapat dzikir dengan jahr lebih utama bagi orang yang masih dikuasai oleh kekuatan pikirannya sedangkan dzikir khofi atau sirri lebih utama bagi orang yang mampu berkonsentrasi, sighot yang lebih utama bagi orang yang masih di kuasai hawa nafsunya ialah : LAA ILAAHA ILLALLOH, namun ketika ia sudah mampu menguasai hawa nafsunya maka lafadz ALLOH lah yang lebih baik baginya.
 
Katahuilah bahwa dzikir adalah salah satu tanda kasih sayang Allah pada salah seorang hambanya, barang siapa yang mendawamkan dzikir pada Allah maka orang tersebut telah mendapatkan satu tanda dari Allah bahwa ia adalah kekasih Allah.
Ketahuilah bahwa dzikir adalah suatu hal yang paling cepat dalam proses menuju ma’rifat Billah bila dibandingkan dengan ibadah yang lainnya. Syeh ‘Ali Al Murshifi berkata: “para guru torikoh bersusah payah dan tidak mendapatkan suatu obat bagi muridnya yang lebih cepat guna membersihkan hatinya dibanding dengan mendawamkan dzikir, dalam proses tersebut tentu saja memerlukan waktu yang cukup. Para ulama pun sepakat bahwasannya meraih futuh dimalam hari lebih mudah dibandingkan dengan futuh di siang hari. Maka barang siapa dari dzikirnya tidak mendapatkan suatu hal yang khusyu dan hadir bersama Allah sebaiknya ia tidak menjauh dari majlis dzikir dan menghentikan dzikirnya.
 
Ketahuilah bahwa seseorang tak bisa sampai derajat ma’rifat kecuali dengan dzikir. Imam Abu Madyan Attilmisi berkata: “barang siapa yang terus menerus dzikirnya maka akan bening atau bersih asrornya, barang siapa yang bersih atau bening asrornya maka tempatnya berada di sisi Allah. Bisanya demikian, karena sesungguhnya tidaklah mendekat kesisi Allah kecuali orang yang sungguh-sungguh merasa malu pada Allah. Dan orang tidak mungkin mersa malu kepada Allah kecuali ia telah terbuka dan terangkat segala hijabnya. Hal itu tidak akan terjadi kecuali dengan berdzikir secara terus menerus dan inilah jalan bagi orang-orang yang berharap sampai pada derajat ma’rifat billah dengan cepat.
 
Para ulama berpendapat: permulaan yang tampak pada seorang hamba ketika ia sibuk berdzikir adalah Tauhidil Fi’li Lillah (menyatukan pekerjaan bagi Allah) Tauhidil Milki Lillah(menyatukan milik bagi Allah) dan Tauhidil Wujud Lillah (menyatukan wujud bagi Allah), ketika tampak padanya Tauhidul Fi’li Lillah maka ia keluar dengan terbuka dan keyakinan dari melihat dari adanya pekerjaan bagi dirinya dan ia juga keluar dari mancari pahala atas pekerjaan itu. Dan keluar dari sifat ujub, takabur, ria dan lain sebagainya, lalu ia akan masuk dalam satu kategori ikhlas kamil. Perbanyaklah dari mengingat Allah karena dengan dzikir Rahmat Allah akan turun menghampirinya. Dalam suatu hadits diriwayatkan oleh Imam Tabroni: “tidaklah duduk sekelompok kaum yang berdzikir pada Allah kecuali mereka dikelilingi malaikat, dan mereka diselimuti rahmat dan Allah banggakan mereka dihadapan para malaikat”.
 
Ketahuilah, dengan berdzikir segala kesusahan dan keresahan akan hilang. Kenapa tidak? Karena kesusahan dan keresahan yang ada itu diakibatkan oleh berpalingnya kita dari Allah. Maka barang siapa yang ingin senantiasa bahagia perbanyaklah berdzikir pada Allah.
 
Ketahuilah, dengan berdzikir kepada Allah dapat menghilangkan kerasnya hati. Imam Abu Muhammad Attirmidzi berkata: Dzikir kepada Allah dapat membuat hati basah dan lemas, ketika hati sepi dari dzikir maka hati akan diterjang oleh panasnya nafsu dan api syahwat, lalu hati dengan sendirinya akan mengeras dan kering. Kalau sudah demikian, maka anggota tubuh pun enggan untuk melakukan ketaatan.
Ketahuilah, dengan mandawamkan berdzikir segala penyakit hati akan sirna, seperti hasud, sombong, ujub, ria, buruk sangka, dengki, senang dipuji dan lain sebagainya.
 
Ketahuilah, dengan mendawamkan berdzikir bisikan-bisikan syetan akan terputus. Perbedaan bisikan syetan dan bisikan nafsu adalah jika bisikan syetan senantiasa mengarah kepada kemaksiatan. Sedangkan bisikan nafsu adalah senantisa mengarah kepada ajakan syahwat.
Ketahuilah, bahwa dzikir dapat pula menolak mara bahaya. Imam Dzunnun Al-Mishri berkata: barang siapa yang berdzikir pada Allah maka Allah jaga orang itu dari segala hal. Dzikir bila telah menetap dalam hati maka syetan yang mendekat akan jatuh pingsan, sebagai mana halnya manusia bila didekati syetan. Kemudian syetan-syetan berkumpul dan bertanya kenapa ia pingsan? salah satu dari mereka menjawab: ia mendekati seseorang yang sedang berdzikir.
Para ulama sepakat bahwa dzikir tidak sepantasnya ditinggalkan walau dalam kondisi lalai (tidak hadir).
Begitu banyak lagi faidah-faidah berdzikir yang belum tertuang pada tulisan ini, yang jelas seseorang yang berdzikir adalah orang yang menjadi kekasih Allah, bila ia berdzikir dengan hati yang khusyu dan hudur.
Ketika berdzikir janganlah engkau mengingat, melakukan sesuatu kecuali dzikir itu sendiri.
 
Berdzikirlah dengan sekeras mungkin akan tetapi lamban, usahakan berdzikzir denga cara berjama’ah, karena berdzikir dengan cara berjama’ah lebih banyak Atsar nya dalam mengangkat hijab.
Para ulama baik salaf ataupun kholaf telah sepakat atas disunahkannya berdzikir dengan cara berjama’ah, baik dimasjid atau ditempat lain.
Wallahu A’lam…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar